Berbagai artis bersatu untuk menyampaikan pesan hak asasi manusia melalui musik.
Amnesty International Korea mengumumkan rencana untuk program hak asasi manusia yang terus berlanjut.
[TVDaily Reporter Han Seo-yul] Pada 3 Desember, Konser ‘12.3 Hak Asasi Manusia’, yang diselenggarakan oleh Amnesty International Korea, berhasil diselenggarakan di Rolling Hall, Hongdae. Dengan slogan ‘Menanggapi dengan Hak Asasi Manusia di Luar 12.3’, konser ini bertujuan untuk menyampaikan pesan solidaritas dan keberanian melalui musik.
Acara ini dimulai dengan pertunjukan energik dari ‘Resetters’, yang menyiapkan suasana ceria dengan suara ceria mereka, diikuti oleh ‘Ilang’ yang mengangkat suasana dengan lirik yang penuh perasaan, band emosional ‘Broccoli, You’re Dead’, penyanyi yang tegas ‘Ahn Ye-eun’ yang menciptakan ceruk musiknya sendiri, dan penampil yang berenergi ‘Maya’, yang mendominasi panggung dengan energinya.
Sepanjang konser, para penonton dengan penuh semangat bernyanyi bersama dan menerangi ponsel mereka sebagai tanggapan, menciptakan suasana hangat solidaritas. Keterlibatan mereka menyoroti pesan ‘keberanian untuk melindungi satu sama lain’ dan ‘masyarakat yang hidup bersama’. Seorang pejabat dari Amnesty International Korea menyatakan, “Saat-saat yang diciptakan bersama penonton dan artis benar-benar menghangatkan hati,” menekankan pentingnya solidaritas lebih lanjut. Organisasi ini juga berencana untuk terus mengadakan program yang membahas nilai hak asasi manusia dengan masyarakat.
Konser ‘12.3 Hak Asasi Manusia’ lebih dari sekadar acara musik; ini mencerminkan penggabungan berbagai isu sosial melalui pesan yang disampaikan oleh para artis. Beragam gaya musik yang ditampilkan oleh para penampil sangat beresonansi dengan penonton, secara efektif menyatukan beragam pesan menjadi tema solidaritas yang diminta oleh masyarakat modern. Komunikasi artistik semacam ini mendapat respons yang signifikan, terutama di kalangan penggemar, menjadikan acara ini sangat berdampak.
Konser ini juga memberikan kesempatan untuk menekankan identitas diri dan tanggung jawab sosial sehubungan dengan hak asasi manusia. Para artis berdiri sebagai wakil suara masyarakat, menyelaraskan musik mereka dengan penonton dan menanamkan pentingnya hak dan solidaritas. Akibatnya, pertunjukan ini menunjukkan nilai yang melampaui hiburan semata, mengisyaratkan potensi untuk mendorong perubahan dalam persepsi publik mengenai hak asasi manusia.
Akhirnya, berbagai program yang direncanakan oleh Amnesty International Korea diharapkan dapat memperdalam diskusi seputar hak asasi manusia. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada masyarakat dan menciptakan jalur bagi warga untuk secara alami menerima nilai-nilai hak asasi manusia.
Artikel ini merupakan reinterpretasi KOSTAR atas berita yang awalnya diterbitkan oleh TVDaily.
Foto: Rolling Hall