Alasan yang diajukan untuk penolakan adalah catatan DUI sebelumnya.
Insiden ini menyoroti konflik yang sedang berlangsung antara Korea dan Jepang karena masalah sejarah yang kompleks.
Kim Chang-yeol mengalami penolakan untuk masuk Jepang saat berkunjung, menimbulkan controversy. Menurut pernyataan dari Dokdo Love Movement pada tanggal 23, ia berencana untuk mengunjungi Prefektur Shimane pada tanggal 19 untuk mengevaluasi suasana lokal menjelang perayaan 'Hari Takeshima' Jepang yang mengklaim pulau tersebut sebagai wilayah Jepang. Namun, setibanya di Bandara Yonago, ia mendapat pemberitahuan penolakan untuk masuk.
Kim menyatakan bahwa pihak Jepang mengutip catatan DUI sebelumnya sebagai alasan penolakan tersebut, dan menyatakan kebingungan karena ia berhasil masuk Jepang tanpa masalah pada kunjungan sebelumnya tahun lalu. Seorang perwakilan dari Dokdo Love Movement yang menemaninya juga tidak diizinkan masuk, yang menimbulkan kecurigaan bahwa ini mungkin merupakan pemeriksaan yang ditargetkan terkait kegiatan mereka tentang Dokdo.
Prefektur Shimane mengadministrasikan Dokdo sejak 1905 dan merayakan 'Hari Takeshima' pada tanggal 22 Februari, mengadakan acara terkait setiap tahun. Pemerintah Korea Selatan secara konsisten menentang kegiatan ini. Klasifikasi insiden ini sebagai keputusan administratif semata atau tindakan yang dipengaruhi oleh kegiatan terkait Dokdo tetap menjadi titik perdebatan.
Kejadian penolakan Kim Chang-yeol untuk masuk Jepang menyoroti ketegangan sejarah yang kompleks antara Korea dan Jepang daripada sekadar keputusan administratif. Meskipun terpisah dari usaha musiknya, visibilitas insiden ini membawa masalah sejarah kembali ke permukaan. Ini menunjukkan bagaimana budaya pop Korea dapat berinteraksi dengan masalah internasional dan memicu diskusi tentang tanggung jawab sejarah.
Lebih jauh, peran Kim sebagai duta promosi untuk Dokdo Love Movement menekankan tujuan yang jelas dalam kunjungannya. Advokasi ini melampaui aktivitas seorang artis biasa, menekankan pentingnya memenuhi tanggung jawab sejarah. Dukungan penggemar dan publik untuk pendiriannya dapat dilihat sebagai peningkatan kesadaran sejarah di kalangan generasi muda, menandakan keterlibatan berkelanjutan dengan masa lalu Korea.
Terakhir, insiden semacam itu dapat dianggap sebagai cerminan dari memburuknya hubungan antara Jepang dan Korea. Beberapa mengklaim bahwa kebijakan Jepang memungkinkan perpetuasi diskusi-diskusi ini di dalam Korea, menunjukkan fokus untuk memperburuk konflik daripada menangani keluhan sejarah.
Artikel ini merupakan reinterpretasi KOSTAR atas berita yang awalnya diterbitkan oleh TVDaily.
Foto: Dokdo Love Movement