KOSTAR

Multilingual Korean Newsroom

NEWS

Asosiasi Hak Cipta Musik Korea Mengkritik Praktik Penyelesaian Tidak Transparan di Industri PP

Asosiasi Hak Cipta Musik Korea Mengkritik Praktik Penyelesaian Tidak Transparan di Industri PP
KOMCA mengkritik industri PP karena gagal menyerahkan data penggunaan musik.
Mereka menekankan perlunya kolaborasi untuk membangun sistem penyelesaian musik yang jelas.
KOMCA mengklaim praktik penyelesaian yang tidak transparan merugikan para pencipta.

Asosiasi Hak Cipta Musik Korea (KOMCA) baru-baru ini mengkritik prevalensi struktur 'penyelesaian tidak transparan' di antara penyelenggara saluran penyiaran (PP) karena kelalaian mereka dalam menyerahkan data penggunaan musik. KOMCA menekankan perlunya kolaborasi untuk membangun sistem penyelesaian yang adil, dengan menekankan pentingnya pelaporan penggunaan musik yang akurat oleh penyiar.

Di Korea Selatan, dua organisasi manajemen hak cipta ada, termasuk KOMCA, tetapi sejumlah besar operator PP gagal menyerahkan catatan penggunaan musik mereka. Di tengah ketidakberesan ini, penyiar terestrial telah memulai Komite Pengoperasian Pemantauan Musik Penyiaran (BROMIS) untuk mengumpulkan data penggunaan aktual.

Namun, banyak operator PP enggan untuk berpartisipasi dalam tren ini, dan menunjukkan ketidakmauan untuk ikut serta dalam inisiatif pemantauan yang diperlukan untuk menghitung rasio manajemen. Perilaku ini menyebabkan hambatan dalam membangun sistem penyelesaian yang transparan, yang oleh KOMCA dikatakan berdampak buruk pada pertumbuhan bisnis dan daya saing nasional.

Pernyataan terbaru KOMCA mencerminkan masalah kritis yang menghalangi penyelesaian hak cipta yang adil di dalam industri PP. Kurangnya pengiriman data penggunaan musik oleh penyiar menyulitkan perhitungan royalti yang akurat, menciptakan siklus merugikan yang pada akhirnya merugikan para pencipta.

Selain itu, jika dibandingkan dengan situasi di Jepang, jelas bahwa Korea tertinggal dalam perlindungan hak cipta. Di Jepang, lebih dari 99% penyiar menyerahkan catatan penggunaan musik mereka, sementara industri PP domestik berjuang untuk membangun kepercayaan. Ketidaksesuaian ini bisa mengakibatkan hasil yang tidak menguntungkan dalam persaingan dengan platform OTT global.

Akhirnya, debat yang sedang berlangsung ini melampaui masalah perhitungan royalti saja. Ini merupakan faktor penting yang dapat berdampak positif pada keberlanjutan industri konten dan sektor budaya secara keseluruhan di negara tersebut.

Artikel ini merupakan reinterpretasi KOSTAR atas berita yang awalnya diterbitkan oleh TVDaily.

Foto: KOMCA

Source: tvdaily.co.kr